Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cahyaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
CA, 13 nov 1943
Kembali ingatanku padamu, sekian lama yang entah bagaimana tak pernah melintas dalam benakku. Muncul bayangan segala hal yang pernah kita lalui, kenangan yang telah lama mengendap. Kembali aku teringat pada lagu yang sering kita nyanyikan bersama dengan nada sumbang dan suara fals, pada buku yang sering kita baca dan diskusikan bersama, pada setiap hal yang pernah kita lakukan bersama.
Masih kuingat percakapan terakhir kita, kata-katamu yang terdengar sangat egois dan menyakitkan bagiku, pada saat itu.
“Mengertilah bahwa ini mimpiku, cita-citaku sejak kecil, jauh sebelum aku mengenalmu. Sekarang, aku memiliki kesempatan untuk meraihnya dan aku tidak bodoh untuk melepasnya begitu saja. Untuk mewujudkan mimpi ini aku sadar ada banyak hal yang aku korbankan, aku lepaskan dan mungkin tidak sebanding dengan yang akan aku dapat. Tapi sekali lagi, inilah yang aku impikan dan inginkan sejak lama. Kamu berhak bilang aku egois tapi suatu saat nanti kamu akan memahami pilihanku. Entah kapan dan butuh waktu berapa lama, mungkin pada saat kamu juga memiliki kesempatan meraih mimpimu atau pada saat yang lain.”
Lalu pergilah kamu meraih mimpimu dan aku pun kembali menjalani hari-hariku. Seiring berjalan waktu, sosokmu pun mulai memudar. Kamu pasti tahu bahwa aku sengaja memutus komunikasi dengan kamu. Aku jarang membalas email atau sms darimu. Ajakan untuk ngobrol di YM tidak aku hiraukan. Hingga pada akhirnya kamu pun menghilang, mungkin kamu lelah atau kamu larut dalam kesibukanmu. Entahlah dan aku tak peduli. Saat itu aku masih belum memahami pilihanmu.
Sekarang, saat ingatan tentang kamu kembali muncul, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ingin menyapamu via YM atau mengirim email untuk kembali bercerita atau mengirim sms menanyakan kabar. Sayangnya tak ada satu pun yang aku lakukan. Aku hanya diam memandang icon YM milikmu yang menyala.
Jujur, aku sangat ingin tahu kabarmu, bagaimana keadaanmu sekarang, sudah berhasilkah kamu meraih mimpimu. Tapi aku bingung bagaimana memulainya. Rasanya canggung dan malu dan gengsi untuk memulai. Akhirnya kumatikan YM dan komputerku, tetap tidak melakukan apapun.
Mungkin saat aku kembali teringat tentang kamu, disana kamu juga kembali teringat tentangku atau selama ini kamu masih mengingatku di setiap kesibukanmu. Entahlah, aku tak tahu. Hanya saja pada saat aku kembali menyalakan komputer dan YM, ada banyak offline messages dari kamu.
“ How is life, fellas?? Long time no see you. Are you still mad with me??”
“ After all these years, many things happen and am sure, it’s our time to grow”
“ Please reply my messages”
Dan aku pun bengong sesaat kemudian segera menyapamu via YM, tak butuh waktu lama untuk menceritakan apa yang aku alami dan apa yang terjadi pada saat aku kembali ingat kamu. Akhirnya banyak cerita mengalir begitu saja. Segala hal yang seharusnya sejak dulu kita bagi.
Namun aku tidak terlalu menyesali banyaknya waktu yang aku lewati tanpa kamu karena keangkuhanku, karena seperti yang kamu katakan,
“Menurutku, setiap orang butuh waktu untuk berubah, butuh kehilangan untuk menjadi dewasa dan butuh kekecewaan untuk menjadi rendah hati dan bijak. Mungkin keputusanku untuk meraih mimpiku adalah jalan bagi aku dan kamu untuk berkembang. Like Lemar said, “i guess it’s time to grow”.
Mungkin hari ini adalah hari terakhir aku dapat melihatmu. Bukan karena aku dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa datang, tapi karena hari ini adalah hari terakhir aku berkarya di kantor ini. Walaupun sejenak, banyak hal yang telah aku lalui dan jalani selama berada disini, aku mensyukuri setiap hal itu. Bertemu dengan kamu adalah salah satu yang aku syukuri.
Tahukah kamu jika di tiap hari yang telah aku lewati, aku sering curi kesempatan untuk dapat melihatmu, berharap kamu sekedar lewat di sekitarku. Ingin aku menyapamu, sekedar berbincang santai tapi aku tak pernah menciptakan kesempatan itu, aku takut. Bahkan ingin aku berdoa agar jaringan internet bermasalah agar aku dapat meminta bantuanmu memperbaikinya. Seringkali, ketika aku memiliki kesempatan melihatmu, backsound lagu “tell him” by Celine Dion mengalun di benakku. Berharap aku memiliki keberanian menghampiri dan menyapamu. Tapi itu tak pernah aku lakukan. Keberanianku hanyalah sebatas merapalkan namamu dalam doa-doaku, semoga ALLAH SWT mengijinkan aku mengenalmu, semoga aku memiliki keberanian menciptakan kesempatan. Sayangnya hingga saat ini aku masih tak berani.
Aku bisa saja menemukan seribu pertanda yang akan aku rangkai seakan-akan itu adalah jawaban doaku, tapi aku tahu itu hanya perasaaanku, bisa saja aku salah. Aku bisa mengatakan kepada setiap orang apa alasan kamu tampak istimewa di mataku, tapi aku tak menemukan cara dan kesempatan bagaimana menyampaikan kepada kamu. Yang aku tahu, setiap aku berada di dekatmu, aku kehilangan kata dan keberanianku. Bagai orang bodoh, aku tak tahu harus bersikap dan berkata apa.
Ya, aku menyukaimu, inginnya aku dapat bersamamu, dapat mengenalmu tapi jika itu semua terlalu berlebihan, cukuplah bagiku jika kamu tahu bahwa aku pernah menyukaimu dan memperhatikanmu di tiap hariku, pernah merapalkan namamu di doa-doa yang aku panjatkan. Terima kasih telah menjadi salah satu alasan aku bersyukur bangun di pagi hari, karena aku tahu, mungkin di hari itu aku dapat melihat wajahmu, mungkin aku dapat berpapasan denganmu. Segala kemungkinan yang membuat aku bersemangat dan tersenyum. Mengutip judul puisi Mustofa Bisri maka “Perkenankanlah aku mencintaimu”.
Semoga di masa mendatang, apapun akhirnya kisah ini, tak ada hati yang terluka dan menyesal. Aku telah menyampaikan apa yang aku rasakan. Sekarang aku dapat melanjutkan perjalananku dengan bahagia, tak ada beban.
Teriring doaku, semoga kamu sehat, semoga kamu sukses, semoga kamu bahagia dan semoga kamu selalu dalam lindungan ALLAH SWT.
Salam hangat,
Listiya Manggiasih
Sometimes I talk quieter just to see who is still listening. Sometimes I screw up just to see who is willing to fix it.
Sometimes I write just to see who will read what I have to say. Sometimes I hide just to see who will look.
Sometimes I am who I am just to see who is still there in the end. Sometimes I exist to see if you will exist with me.
Just sometimes…
Jakarta, 6th March 2012.
Tak ada yang spesial dengan saat pertama bertemu dengannya. Ketika berkenalan dengannya pun tak ada sesuatu yang membuatnya istimewa. Semua yang ada di dia terlihat biasa dan apa adanya.
Namun seiring berjalan waktu, di suatu hari, aku tanpa sengaja melihatnya ketika ia baru selesai berwudhu. Dengan sisa air masih menempel di wajahnya, dia kembali memakai kacamatanya. Saat itulah, entah mengapa, dia terlihat begitu istimewa.
Alasan yang terdengar klise, seperti mengatakan, bahwa seorang pria yang melaksanakan sholat Jumat “kegentengannya” akan bertambah 1000 x. Aku tidak mengatakan bahwa dia mendadak terlihat lebih ganteng, tp hanya saja sejak saat itu aku mulai memperhatikannya.
Aku mulai cari-cari kesempatan untuk dapat melihat sosoknya meski hanya sekelebat. Ada keinginan untuk dapat berbincang dengannya, tapi rasanya begitu sulit. Aku tak dapat menemukan cara bagaimana mengajaknya berbincang. Ketika ada kesempatan berbincang sambil lalu dengan dia, yang terjadi adalah aku tak bisa menenukan topik yang menarik, yang dalam bayanganku, akan dapat membuat kami berdua larut. Semua itu tak ada, yg terjadi hanyalah pembicaraan bagai tanya jawab, serasa cerdas cermat. Tampaknya dia begitu larut dalam dunianya sendiri. Bingung dan mati langkah, tak berkutik sedikitpun.
Sekarang, aku masih memperhatikan sosoknya meski sekelebat. Tak ada keinginan yang muluk lagi. Cukuplah aku hilang akal dan mati langkah menghadapi sikap dingin dan diam. Mungkin aku seharusnya membawa jaket ketika aku melihat dan bertemu dengannya, untuk dapat sedikit menghangatkan dia yang dingin.
Jakarta, 29 Februari 2012.